Sabtu, 23 Desember 2017

MAKALAH : Eksekusi Putusan Hakim

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan sebuah interaksi dengan sesamanya. Dan proses interaksi itu tidak selamanya berjalan dengan baik, namun ada kalanya dihiasi dengan konflik horizontal sehingga dalam kasus ini diperlukan adanya suatu institusi yang menjadi pemutus konflik tersebut. Dalam kehidupan bernegara, institusi ini menjelma dalam bentuk Lembaga-lembaga peradilan.
Putusan pengadilan merupakan salah satu dari hukum acara formal yang akan dijalani oleh para pihak yang terkait dalam perkara perdata. Dari beberapa proses yang dilakukan oleh para pihak yang berperkara, putusan dan bagaimana putusan itu dilaksanakan adalah tahapan yang menjadi tujuan. Karena apabila terdapat suatu yang belum atau tidak terpenuhi sesuai dengan ketentuan atau syarat yang telah ditetapkan oleh undang-undang maka putusan yang dihasilkan menjadi cacat hukum dan bahkan akan menjadi batal demi hukum.[1]
Dengan kata lain pencari keadilan mempunyai tujuan akhir yaitu agar segala hak-haknya yang dirugikan oleh pihak lain dapat dipulihkan melalui putusan pengadilan/hakim. Pemulihan tersebut akan tercapai apabila putusan dapat dilaksanakan. Dengan demikian, dalam makalah singkat ini akan mengemukakan sedikit pembahasan mengenai pelaksanaan eksekusi putusan hakim.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian eksekusi putusan hakim?
2.      Bagaimana tata cara seorang hakim dalam membuat sebuah keputusan?
3.      Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh hakim dalam mumbuat sebuah putusan?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dari makalah ini yaitu untuk mengetahui:
1.      Pengertian eksekusi putusan hakim.
2.      Tatacara seorang hakim dalam membuat sebuah keputusan.
3.      Syarat-syarat yang harus dipenuhi hakim dalam membuat keputusan.






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Eksekusi Putusan Hakim
1.      Pengertian Eksekusi
Kata Executie diadaptir ke dalam Bahasa Indonesia dengan ditulis menurut bunyi dari kata itu sesuai dengan ejaan Indonesia, yaitu ”Eksekusi”. Kata ini sudah populer serta diterima oleh insan hukum di Indonesia, sehingga untuk selanjutnya dalam makalah ini akan mengunakan kata Eksekusi  untuk pengertian pelaksanaan putusan dalam perkara perdata.
Pengertian eksekusi sama dengan pengertian menjalankan putusan (ten uitvoer legging van vonnissen), yakni melaksanakan secara paksa putusan pengadilan dengan bantuan kekuatan umum, apabila pihak yang kalah (tereksekusi atau pihak tergugat) tidak mau menjalankannya secara sukarela. Dengan kata lain, eksekusi (pelaksanaan putusan) adalah tindakan yang dilakukan secara paksa terhadap pihak yang kalah dalam perkara.[2]
Pengertian Eksekusi merupakan pelaksanaan Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) yang dijalankan secara paksa oleh karena pihak yang kalah dalam perkara tidak mau mematuhi pelaksanaan acara Putusan Pengadilan. Dalam Pasal 195 HIR/Pasal 207 RBG dikatakan: Hal menjalankan Putusan Pengadilan Negeri dalam perkara yang pada tingkat pertama diperiksa oleh Pengadilan Negeri adalah atas perintah dan tugas Pimpinan ketua Pengadilan negeri yang pada tingkat pertama memeriksa perkara itu menurut cara yang diatur dalam pasal-pasal HIR. Selanjutnya dalam Pasal 196 HIR/Pasal 208 RBG dikatakan: Jika pihak yang dikalahkan tidak mau atau lalai untuk memenuhi amar Putusan Pengadilan dengan damai maka pihak yang menang dalam perkara mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk menjalankan Putusan Pengadilan itu. Kemudian Ketua Pengadilan Negeri memanggil pihak yang kalah dalam hukum serta melakukan teguran (aanmaning) agar pihak yang kalah dalam perkara memenuhi amar putusan pengadilan dalam waktu paling lama 8 (delapan) hari. Dengan demikian, pengertian eksekusi adalah tindakan paksa yang dilakukan Pengadilan Negeri terhadap pihak yang kalah dalam perkara supaya pihak yang kalah dalam perkara menjalankan Amar Putusan Pengadilan sebagaimana mestinya.[3] Eksekusi dapat dijalankan oleh Ketua Pengadilan Negeri apabila terlebih dahulu ada permohonan dari pihak yang menang dalam perkara kepada Ketua Pengadilan Negeri agar Putusan Pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Sebelum menjalankan eksekusi Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap maka Ketua Pengadilan Negeri melakukan teguran (aanmaning) kepada pihak yang kalah dalam perkara agardalam waktu 8 (delapan) hari sesudah Ketua Pengadilan Negeri melakukan teguran (aanmaning) maka pihak yang kalah dalam perkara harus mematuhi Amar Putusan Pengadilan dan apabila telah lewat 8 (delapan) hari ternyata pihak yang kalah dalam perkara tidak mau melaksanakan Putusan Pengadilan tersebut, maka Ketua Pengadilan Negeri dapat memerintah Panitera/Jurusita Pengadilan Negeri untuk melaksanakan sita eksekusi atas objek tanah terperkara dan kemudian dapat meminta bantuan alat-alat negara/kepolisian untuk membantu pengamanan dalam hal pengosongan yang dilakukan atas objek tanah terperkara.
2.      Dasar Hukum Eksekusi
Dasar hukum eksekusi Sebagai realisasi dari putusan hakim terhadap pihak yang kalah dalam perkara, maka masalah eksekusi telah diatur dalam berbagai ketentuaan :
a.    Pasal 195 - Pasal 208 HIR dan Pasal 224 HIR/Pasal 206 - Pasal 240 R.Bg dan Pasal 258 R.Bg (tentang tata cara eksekusi secara umum);
b.    Pasal 225 HIR/Pasal 259 R.Bg (tentang putusan yang menghukum tergugat untuk melakukan suatu perbuatan tertentu).
c.    Sedangkan Pasal 209 - Pasal 223 HIR/Pasal 242 - Pasal 257 R.Bg, yang mengatur tentang sandera (gijzeling) tidak lagi di berlakukan secara efektif.
d.   Pasal 180 HIR/Pasal 191 R.Bg, SEMA Nomor 3 Tahun 2000 dan SEMA Nomor 4 Tahun 2001 (tentang pelaksanaan putusan yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu serta merta (Uitvoerbaar bij voorraad dan provisi).
e.    Pasal 1033 Rv (tentang eksekusi riil).
f.     Pasal 54 dan Pasal 55 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 (tentang pelaksanaan putusan pengadilan).

B.     Azas-azas Eksekusi
1.      Putusan hakim yang akan di eksekusi haruslah telah berkekuatan hukum yang tetap (in kracht van gewijsde).
Maksudnya, pada putusan hakim itu telah terwujud hubungan hukum yang pasti antara para pihak yang harus ditaati/dipenuhi oleh tergugat, dan sudah tidak ada lagi upaya hukum (Rachtsmiddel), yakni: 3
a.       Putusan pengadilan tingkat pertama yang tidak diajukan banding;
b.      Putusan Makamah Agung (kasasi/PK).
c.       Putusan verstek yang tidak diajukan verzet.
Sebagai pengecualian dari asas di atas adalah:
a.       Putusan serta merta (Uitvoerbaar bii voorraad).
b.      Putusan provisi.
c.       Putusan perdamaian.
d.      Grose akta hipotik/pengakuan hutang.
2.      Putusan hakim yang akan dieksekusi haruslah bersifat menghukum (condemnatoir).
Maksudnya, pada putusan yang bersifat menghukum adalah terwujud dari adanya perkara yang berbentuk yurisdictio contentiosa (bukan yurisdictio voluntaria), dengan bercirikan, bahwa perkara bersifat sengketa (bersifat partai) dimana ada pengugat dan ada tergugat, proses pemeriksaannya secara berlawanan antara penggugat dan tergugat (Contradictoir). Misalnya amar putusan yang berbunyi :
a.       Menghukum atau memerintahkan menyerahkan sesuatu barang.
b.      Menghukum atau memerintahkan  pengosongan  sebidang  tanah atau rumah.
c.       Menghukum atau memerintahkan  melakukan  suatu perbuatan tertentu.
d.      Menghukum atau memerintahkan  penghentian  suatu perbuatan atau keadaan.
e.       Menghukum atau memerintahkan  melakukan  pembayaran sejumlah uang.[4]
3.      Putusan hakim itu tidak dilaksanakan secara sukarela.
Maksudnya, bahwa tergugat sebagai pihak yang kalah dalam perkara secara nyata tidak bersedia melaksanakan amar putusan dengan sukarela. Sebaliknya apabila tergugat bersedia melaksanakan amar putusan secara sukarela, maka dengan sendirinya tindakan eksekusi sudah tidak diperlukan lagi.
4.      Kewenangan eksekusi hanya ada pada pengadilan tingkat pertama [Pasal 195 Ayat (1) HIR/Pasal 206 Ayat (1) HIR R.Bg].
Maksudnya, bahwa pengadilan tingkat banding dengan Mahkamah Agung tidaklah mempunyai kewenangan untuk itu, sekaligus terhadap putusannya sendiri, sehingga kewenangan tersebut berada pada ketua pengadilan tingkat pertama (pengadilan agama/pengadilan negeri) yang bersangkutan dari sejak awal hingga akhir (dari aanmaning hingga penyerahan barang kepada penggugat).
5.      Eksekusi harus sesuai dengan amar putusan.
Maksudnya, apa yang dibunyikan oleh amar putusan, itulah yang akan dieksekusi. Jadi tidak boleh menyimpang dari amar putusan. Oleh karena itu keberhasilan eksekusi diantaranya ditentukan pula oleh kejelasan dari amar putusan itu sendiri yang didasari pertimbangan hukum sebagai argumentasi hakim.

C.    Jenis-jenis Eksekusi
1.      Jenis Eksekusi
a.       Dengan Sukarela.
Artinya pihak yang dikalahkan melaksanakan sendiri putusan Pengadilan tanpa ada paksaan dari pihak lain
b.      Dengan Paksaan.
Yaitu menjalankan putusan Pengadilan, yang merupakan suatu  tindakan hukum  dan dilakukan secara paksa terhadap pihak yang kalah disebabkan ia tidak mau menjalankan putusan secara suka rela.
2.      Macam Ekekusi
Pada dasarnya ada 2 bentuk eksekusi ditinjau dari sasaran yang hendak dicapai oleh hubungan hukum yang tercantum dalam putusan pengadilan, yaitu melakukan suatu tindakan nyata atau tindakan riil, sehingga eksekusi semacam ini disebut eksekusi riil, dan melakukan pembayaran sejumlah uang. Eksekusi seperti ini selalu disebut eksekusi pembayaran uang.[5] Demikian juga dalam praktek peradilan agama dikenal 2 macam eksekusi, yaitu eksekusi riil atau nyata sebagaimana diatur dalam Pasal 200 ayat (11) HIR/Pasal 218 ayat (2) R.Bg, dan Pasal 1033 Rv, yang meliputi penyerahan pengosongan, pembongkaran, pembagian, dan melakukan sesuatu. Dan eksekusi pembayaran sejumlah uang melalui lelang atau executorial verkoop, sebagaimana tersebut dalam Pasal 200 HIR/Pasal 215 R.Bg.[6]
a.       Eksekusi Riil.
Eksekusi riil adalah eksekusi yang menghukum kepada pihak yang kalah dalam perkara untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, misalnya menyerahkan barang, mengosongkan tanah atau bangunan, membongkar, menghentikan suatu perbuatan tertentu dan lain-lain sejenis itu. Eksekusi ini dapat dilakukan secara langsung (dengan perbuatan nyata) sesuai dengan amar putusan tanpa melalui proses pelelangan. 
b.      Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang.
Eksekusi pembayaran sejumlah uang adalah eksekusi yang mengharuskan kepada pihak yang kalah untuk melakukan pembayaran sejumlah uang (Pasal 196 HIR/208 R.Bg). Eksekusi ini adalah kebalikan dari eksekusi riil dimana pada eksekusi bentuk kedua ini tidaklah dapat dilakukan secara langsung sesuai dengan amar putusan seperti pada eksekusi riil, melainkan haruslah melalui proses pelelangan terlebih dahulu, karena yang akan dieksekusi adalah sesuatu yang bernilai uang.
                    
D.    Tatacara Seorang Hakim Membuat Keputusan
Pelaksanaan putusan/eksekusi adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan. Dan putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde). Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet, banding, dan kasasi.
Pengadilan Agama sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman dapat melaksanakan segala putusan yang dijatuhkannya secara mandiri tanpa harus melalui bantuan Pengadilan Negeri. Hal ini berlaku setelah ditetapkannya UU No. 7/1989. Dan sebagai akibat dari ketentuan UU Peradilan Agama diatas adalah:
1.    Ketentuan tentang eksekutoir verklaring dan pengukuhan oleh Pengadilan Negeri dihapuskan.
2.    Pada setiap Pengadilan Agama diadakan Juru Sita untuk dapat melaksanakan putusan-putusannya
Pelaksanaan putusan hakim dapat Secara sukarela, atau Secara paksa dengan menggunakan alat Negara. Apabila pihak terhukum tidak mau melaksanakan secara sukarela. Semua keputusan pengadilan mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu kekuatan untuk dilaksanakan secara paksa oleh alat-alat Negara. Keputusan pengadilan bersifat eksekutorial adalah karena pada bagian kepala keputusannya berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Putusan yang dapat dieksekusi adalah yang memenuhi syarat-syarat untuk dieksekusi, yaitu :
1.      Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, kecuali dalam hal:
a.       Pelaksanaan putusan serta merta, putusan yang dapat dilaksanakan lebih dulu
b.      Pelaksanaan putusan provisionil
c.       Pelaksanaan Akta Perdamaian
d.      Pelaksanaan (eksekusi) Grose akta
2.      Putusan tidak dijalankan oleh pihak terhukum secara sukarela meskipun ia telah diberi peringatan (aan maning) oleh Ketua Pengadilan Agama
3.      Putusan hakim yang bersifat kondemnatoir, Putusan yang bersifat deklaratoir atau konstitutif tidak diperlukan eksekusi. Putusan kondemnatoir tidak mungkin berdiri sendiri, dan merupakan bagian dari putusan deklaratoir, karena sebelum bersifat menghukum terlebih dahulu ditetapkan suatu keadaan hukum
4.      Eksekusi dilakukan atas perintah dan dibawah pimpinan Ketua Pengadilan Agama.
Disamping itu, terdapat beberapa macam pelaksanaan putusan, yaitu:
1.      Putusan yang menghukum salah satu untuk membayar sejumlah uang. Hal ini diatur dalam pasal 196 HIR, pasal 208 R.Bg
2.      Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu perbuatan. Hal ini diatur dalam pasal 225 HIR, pasal 259 R.Bg
3.      Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk mengosongkan suatu benda tetap. Putusan ini disebut juga Eksekusi Riil. Hal ini diatur dalam pasal 1033 Rv.
4.      Eskekusi riil dalam bentuk penjualan lelang. Hal ini diatur dalam pasal 200 ayat (1) HIR, pasal 218 ayat (2) R.Bg
Pasal 196 HIR/207 R.Bg mengatur tentang pelaksanaan putusan yang diakibatkan dari tindakan tergugat/enggan untuk secara suka rela melaksanakan isi putusan untuk membayar sejumlah uang, sehingga pihak penggugat sebagai pihak yang dimenangkan mengajukan permohonan secara lisan atau tertulis kepada Ketua Pengadilan Agama agar putusan dapat dijalankan.
Pasal 225 HIR/259 R.Bg berkaitan dengan pelaksanaan putusan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu yang tidak ditaati, sehingga dapat dimintakan pemenuhan tersebut dinilai dalam bentuk uang. Maksud pelaksanaan putusan yang diatur dalam ketentuan ini adalah untuk menguangkan bagian tertentu dari harta kekayaan pihak tergugat sebagai pihak yang dikalahkan dengan tujuan guna memenuhi isi putusan sebagai termuat dalam amarnya, yang telah memenangkan pihak penggugat sebagai pemohon eksekusi. Yang dimaksudkan eksekusi riil dalam ketentuan pasal 1033 Rv. adalah dilaksanakan putusan yang memerintahkan pengosongan atas benda tidak bergerak. Dalam praktek di pengadilan, tergugat yang dihukum untuk mengosongkan benda tidak bergerak tersebut setelah terlebih dahulu ditegur, untuk mengosongkan dan menyerahkan benda tidak bergerak tersebut kepada penggugat selaku pihak yang dimenangkan. Apabila tidak bersedia melaksanakan perintah tersebut secara sukarela, maka Ketua Pengadilan dengan penetapan akan memerintahkan Panitera atau Juru Sita, kalau perlu dengan bantuan alat negara (Polisi/ABRI) dengan paksa melakukan pengosongan terhadap tergugat dan keluarga serta segenap penghuni yang ada, ataupun yang mendapat hak dari padanya, dengan menyerahkannya kepada Penggugat selaku pemohon eksekusi.
Adapun mengenai cara melakukan penjualan barang-barang yang disita dalam hal pelaksanaan eksekusi riil dalam bentuk penjualan lelang diatur dalam pasal 200 HIR. Ketentuan pokoknya antaralainberisi:
1.      Penjualan dilakukan dengan pertolongan Kantor Lelang;
2.      Urutan-urutan barang yang akan dilelang ditunjuk oleh yang terkena lelang jika ia mau
3.      Jika jumlah yang harus dibayar menurut putusan da biaya pelaksanaan putusan dianggap telah tercapai, maka pelelangan segera dihentikan. Baran-barang selebihnya segera dikembalikan kepada yang terkena lelang;
4.      Sebelum pelelangan, terlebih dahulu harus diumumkan menurut kebiasaan setempat dan baru dapat dilaksanakan 8 hari setelah penyitaan;
5.      Jika yang dilelang terasuk benda yang tidak berberak maka harus diumumkan dalam dua kali dengan selang waktu 15 hari;
6.      Jika yang dilelang menyangkut benda tidak bergerak lebih dari Rp.1000.- harus diumumkan satu kali dalam surat kabar yang terbit di kota itu paling lambat 14 hari sebelum pelelangan;
7.      Jika harga lelang telah dibayar, kepada pembeli diberikan kwitansi tanda lunas dan selain itu pula hak atas barang tidak bergerak tersebut beralih kepada pembeli;
8.      Orang yang terkena lelang dan keluarganya serta sanak saudaranya harus menyerahkan barang tidak bergerak itu secara kosong kepada pembeli.






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Eksekusi Eksekusi adalah merupakan pelaksanaan Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) yang dijalankan secara paksa oleh karena pihak yang kalah dalam perkara tidak mau mematuhi pelaksanaan acara Putusan Pengadilan.
2 bentuk eksekusi ditinjau dari sasaran yang hendak dicapai oleh hubungan hukum yang tercantum dalam putusan pengadilan, yaitu melakukan suatu tindakan nyata atau tindakan riil, sehingga eksekusi semacam ini disebut eksekusi riil, dan melakukan pembayaran sejumlah uang.

B.     Saran
Adapun makalah kami ini adalah makalah hasil pemikiran sendiri, yang didasari dari refrensi-refrensi yang kami dapatkan baik dari buku diperpustakaan maupun pengetahuan dari online. Jika terdapat kesalahan dan kekurangan dari makalah kami ini, kami berharap kritik/saran dan masukan dari pembaca, guna untuk mewujudkan perubahan kelebih baik di kemudian harinya. Terimakasih..












DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdul Manan, 2005. Aspek-Aspek Pengubah Hukum. Jakarta: Kencana.
M. Yahya Harahap, 2010. Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafita.
Moh. Taufik Makaro, 2004. Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
R. Subekti, 1977. Hukum Acara Perdata, Bandung: Binacipta.
 ________, 1989. Hukum Acara Perdata Cet. Ke 3. Bandung: Binacipta.
Sudikno Mertokusumo, 1998. Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
https://llmurahmad.blogspot.co.id/2017/12/makalah-eksekusi-putusan-hakim.html




[1] Sebagaimana ditentukan dalam Undang – undang No. 4 Tahun 2004, Tentang kekuasaan Kehakiman, Pasal   19.
[2] M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta. PT. Gramedia, 1988), hal. 5.
[3] M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta. PT. Gramedia, 1988), hal. 5.
[4] M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta. PT. Gramedia, 1988), hal. 13.
[5] M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta. PT. Gramedia, 1988), hal. 20
[6] Abdul Manan, Aspek-Aspek Pengubah Hukum, (Jakarta:Kencana, 2005), hal. 316

Selasa, 22 November 2016

MAKALAH : Paradigma Ilmu-Ilmu Islami

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Semenjak ada nya manusia di permukaan buni ini, dengan perubahan waktu pula manusia-manusia tersebut melakukan interaksi-interaksi antar sesamanya. Sehingga, perkumpulan antar-antar interaksi tersebut menciptakan budaya, dan budaya yang telah mencapai strata yang paling tinggi akan tercapai nya peradaban.

Berbicara mengenai peradaban kami akan sedikit membahas peradaban islam secara parsial. Peradaban islam yang banyak di awali oleh para tokoh-tokoh islam di mulai dari lahirnya nabi besar Muhammad SAW, yang telah di pilih oleh Allah SWT untuk membimbing umat manusia atau mengajarkan tentang akhlakul karimah di permukaan bumi ini dengan bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia. Atas misi nya tersebut islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad Swt tersebut, islam memberikan pernyataan bahwa setiap orang yang beriman dan berilmu pengetauan maka akan di tinggikan derajat nya oleh Allah Swt, yang sebagai penguasa alam raya ini.

Hal ini ada kaitannya dengan iman dan ilmu, dimana islam sangat perperan besar dalam proses perkembangan-perkembangan ilmu pengetauan didunia, seperti yang telah di buktikan oleh para filosof muslim, dengan itu makalah ini bertujuan untuk menguraikan sedikitnya pembahasan dari peran-peran islam terhadap manusia dalam melakukan pencapaian ilmu pengetauan maupun sebagai aktivitas manusia di permukaan bumi ini




BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Agama dan Islam

Dalam kalangan masyarakat, selain kata agama juga dikenal dengan kata addin (الدين) dari bahasa arab dan kata religi dari bahasa Eropa. Agama berasal dari kata Sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata yaitu: a artinya tidak, dan gam yang berarti pergi, jadi agama diartikan dengan tidak pergi, yaitu tetap di tempat, dan diwarisi secara turun-temurun. Agama memang mempunyai sifat yang demikian. Ada lagi yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa gam berarti tuntunan. Memang agama mengandung ajaran yang menjadi tuntunan hidup bagi penganutnya.[1]

Islam berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang secara kebahasaan berarti 'Menyelamatkan' misal teks 'Assalamu Alaikum' yang berarti Semoga Keselamatan menyertai kalian semuanya. Islam atau Islaman adalah Masdar (Kata benda) sebagai bahasa penunjuk dari Fi'il (Kata kerja) yaitu 'Aslama' artinya Telah Selamat dan 'Yuslimu' artinyam Menyelamatkan.

Dengan demikian agama Islam merupakan agama yang mempunyai pengertian suatu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada masyarakat melalui nabi Muhammad Saw., sebagai Rasul. Islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang hanya mengenai satu segi dan tetap mengenai berbagai pedoman dari kehidupan manusia. Sumber dari ajaran-ajaran yang mengambil dari berbagi aspek itu ialah al-Qur’an dan hadits.


B. Peran Islam dari Masa ke-masa

Semenjak masa nabi Muhammad SAW, Islam tidak pernah berubah dari pandangan hidup manusia. Bahkan islam juga telah dijadikan sebagai objek studi pokok dalam kalangan pendidikan di Indonesia. 

Islam di masa ke masa juga tidak pernah tidak berkembang, sejak masa nabi dan sampai sekarang Islam terus dikaji secara ilmiah dan tidak cukup dengan amalkan saja peran Islam dalam kehidupan sangat penting dalam masyarakat. Peran Islam dalam kehidupan manusia tepatnya menjadikan Islam itu sendiri sebagai objek kajian ilmiah atau cukup dijadikan pedoman hidup yang tampak perubahan dan kekurangan. 

Permasalahan semacam ini sebenarnya merupakan permasalahan klasik yang menjadi perdebatan pada abad pertengahan antara al Ghazali dan Ibn Rusyd, yang mempertanyakan bagaimana hukumnya mempelajari Islam, peran Islam dalam kehidupan masyarakat sangat besar, karena Islam adalah suatu jalan yang paling benar, dan agama yang diakui Allah dan dijadikan pedoman bagi umat Islam, peran Islam dari dulu sampai sekarang terus berkembang dengan adanya kajian-kajian terdapat dalam Islam itu sendiri, dengan adanya pemikiran-pemikiran para filosof yang mengkaji Islam dan mengembangkan dari masa ke masa sampai sekarang Islam berperan penting di dalam negara kita dan kita ketahui Islam itu berkembang di negara kita karena kita adalah negara yang banyak Islam di banding negara lain dan Islam sangat berperan penting untuk masyarakat yang didalamnya menganut agama Islam.[2]


C. Peran Islam Dalam Kehidupan Manusia

Membicarakan islam pada dasar nya membicarakan fungsi atau kegunaan. Dalam kajian-kajian ilmu sosial terdapat teori structural fungsional yang konsep dasar nya di rumuskan oleh para filosuf. Kami tidak bermaksud untuk menjelaskan secara mendalam, tetapi hanya memperkenal nya. Emile Durkheim (1858-1917), ahli sosiologi dari farncis, memperkenalkan masyarakat organis. Durkheim percaya bahwa norma-norma akan terancam oleh pembagian kerja yang berlebihan.[3]

A.H. Hasanuddin mengemukakan beberapa fungsi agama yang secara umum dibutuhkan bagi kehidupan manusia yaitu:

1. Mendidik manusia, jadi tenteram dan damai, tabah dan tawakal, ulet dan percaya pada diri sendiri. 
2. Membentuk manusia jadi berani berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan dengan kesiapan mengabdi dan berkorban.
3. Mencetak manusia jadi sabar, enggan atau takut untuk melakukan pelanggaran yang menjurus kepada dosa.
4. Memberi sugesti manusia, agar dalam jiwanya tumbuh sifat mulia terpuji dan penyantun, toleran kepada dosa.

Sementara tujuan utama atau visi dari agama islam itu sendiri berupa:

1. Membangun persatuan ummat secara teratur sesuai dengan perintah Allah SWT dan ajaran-ajaran Rasullah SAW dalam segala aspek kehidupan, usaha dan pergaulan.

2. Memiliki syarat, sifat, kekuatan, kecakapan untuk memperoleh daya guna menyelamatkan Bangsa dan Negara.

3. Menjaga tetap terpeliharanya hubungan baik, kerjasama, persatuan antara ummat islam dengan golongan lain yang dapat diperoleh faedah dan manfaatnya.

Disini islam mempunyai prinsip dasar yaitu mengenai keutamaan, kebesaran, kemuliaan, keberanian, Hanya dapat dicapai karena ‘’Tauhid’’, Tegasnya: menetapkan lahir dan bathin “Laa illaha illal Laah’’, tidak ada sesembahan apapun juga melainkan Allah SWT.[4]

Dalam pandangan Durkheim, Manusia setelah dibebani oleh hukum, dalam perbuatannya selalu berada di antara baik dan buruk dan setelah dia meninggal dunia, kesan perbuatannya akan selalu dikenang oleh mereka yang masih hidup didunia. Meliputi semua kehidupan masyarakat pertama, tetapi tempat nya menjadi lebih terbatas dalam masyarakat kedua.[5]

Dengan demikian kita bisa mencoba memahami bahwa peran itu adalah dalam struktur. Dalam pengertian ini, jita bisa menyederhanakan pemahaman kita kepada diri kita sendiri dalam dataran fisik. Tubuh terdiri atas dua kaki, perut kepala, tangan dan lain sebagai nya, oleh karena itu, kita merupakan satu kesatuan yang dapat kita sebut sebagai struktur. Setiap anggota tubuh berfungsi terhadap anggota tubuh lain nya, baik dalam fungsi maupun dalam sumber intern lain nya.

Tubuh kita yang dimaksud disini, dapat di tarik dalam wilayah yang lebih luas, misal nya masyarakat. Dalam masyarakat terdapat struktur kemasyarakatan yang satu dengan yang lain saling berkaitan dalam memberikan fungsi. Fungsi salah satu komponen baik dalam masyarakat mekanis maupun dalam masyarakat organis terhadap peran agama islam, kita memerlukan dua komponen dalam kehidupan sosial, yang menurut kami penting adalah yang pertama: hubungan antara perintah tauhid, dan cegahan syirik dengan ilmu pengetauan. Dan yang kedua, paradigma ilmu islami yang kini sedang di galak kan oleh cendikiawan muslim.



D. Hubungan Tauhid Dengan Ilmu Pengetauan

Dari segi unsur kebudayaan, agama merupakan universal cultural, arti nya terdapat di setiap daerah kebudayaan di mana saja masyarakat dan budaya itu berada. Salah satu teori fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendiri nya. Dengan kata lain, setiap keadaan memiliki fungsi, konsekuensi nya setiap budaya yang tidak berfungsi akan lenyap atau akan sirna. Karena dari sejak dulu dan sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksistensi nya, berarti ia mempunyai dan memerankan sejumblah peran dan fungsi di masyarakat.

Perintah yang sangat mendasar dalam ajaran islam adalah mengesakan Tuhan dan mencegah berbuat syirik kepada nya. Dalam Al-quran surat Al-ikhlas 1-4, yang arti nya: Allah berfirman “ katakanlah “ Dia lah Tuhan yang maha Esa, Allah adalah tuhan yang segala nya bergantung kepada Nya, Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Dan tidak seorang pun yangsetara dengan Dia”[6].

Dengan demikian, tauhid mendoromg manusia untuk menguasai dan memanfaatkan alam karena sudah di tundukkan kepada manusia. Perintah menegaskan itu di baringi dengan penegasan perbuatan syirik, jika manusia menyekutukan Allah, berarti ia di kuasai oleh alam, padahal manusialah yang harus menguasai bumi kerena bumi telah di tundukkan oleh Allah Swt. Demikian juga, sumbangan atau peran islam dalam kehidupan manusia adalah terbentuk nya suatu komonitas yang berkecendrungan progresif, yaitu komonitas yang dapat mengendalikan, memelihara, dan mengembangkan kehidupan melalui pengembangan ilmu atau sains. Pengembangan dan penguasaan sains bukan saja termasuk amal soleh, melainkan juga dari komitmen Keimanan kepada Allah Swt.


E. Paradigma Ilmu-Ilmu Islami

Sekarang ini yang kita hadapi pada ilmu bukan Islam (ilmu agma atau nonagama). Di Negara kita, perbedaan ini dapat dilihat dari istlah yang diapakai: sekolah agama atau madrasah adalah sekolah-sekolah yang mengajarkan agama islam, sedangkan bagi sekolah yang fokus kajiannya pendidikan umum, istilah teknis yang digunakannya adalah Sekolah. Jadi, di Indonesia antara sekolah dengan Madrasah berbeda, padahal anatara Madrasah (bahasaa arab) dan sekolah (bahasa Indonesia) hanya berbeda asal-usul bahasa; yang satu bahasa Arab sedangkan yang satu lagi Bahasa Indonesia.

Nurcholis Madjid (1998: 3-4) pernah menjelaskan tentang hubungan baik organic antara iman dan ilmu dalam islam. Menurutnya, Ilmu adalah hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memeperatikan dan memahami alam raya ciptaanNya, sebagai manifetasi atau penyingkapan tabir akan rahasia-Nya.[7] 

Dalam proses mengenal tuhan, manusia hanya menerima tanda-tanda yang diberikan-Nya. Dalam bahasa arab, kata “Ilmu” satu akar kata dengan kata “alam” (bendera atau lambang), “alamah” (alamt atau pertanda), dan “ a’lam” (jagad raya, univers). Ketiga harus diketahui atau dimaklumi, yakni menjadi objek pengetahuan. 

Manusia hendak menyikap rahasia Allah tanda nya berupa jagad raya, menggunakan perangkat berupa ilmu perhitungan “faraidz” yang berupa matematika, ilmu fisik, seperti ilmu fisika, kimia, geografi, geologi, astronomi dan falaq. Manusia hendak nya memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah yaitu berupa manusia, yang akan menghasilkan berbagai ilmu. Dari segi perhitungan fisik, pendalaman terhadap struktur tubuh manusia melahirkan ilmu biologi dan kedokteran. Sedangkan aspek psikis manusia memunculkan ilmu psikologi. Apabila di kaji secara kolegtif atau kelompok, kajian terhadap manusia menghasilkan ilmu sosiologi, ilmu lingkungan, komunikasi, hukum, ekonomi, sejarah, politik, dan sebagainya.


F. Hubungan Islam Dengan Budaya Lokal

Agama Islam membiarkan kearifan lokal dan produk-produk kebudayaan lokal yang produktif dan tidak mengotori aqidah keislaman itu sendiri. Jika memang terjadi perbedaan yang mendasar, agama sebagai sebuah naratif yang lebih besar bisa secara pelan-pelan menyelinap masuk ke dalam dunia lokal. 

Para ulama salaf di Indonesia rata-rata bersikap akomodatif. Mereka tidak serta merta membabat habis tradisi. Tidak semua tradisi setempat berlawanan dengan aqidah dan kontra produktif. Banyak tradisi yang produktif dan dapat digunakan untuk menegakkan syiar Islam, dan Islam tidak pernah membeda-bedakan budaya rendah dan budaya tinggi, budaya kraton dan budaya akar rumput yang dibedakan adalah tingkat ketakwaannya. Disamping perlu terus menerus memahami Al-Quran dan Hadist secara benar, perlu kiranya umat Islam merintis cross cultural understanding (pemahaman lintas budaya) agar kita dapat lebih memahami budaya bangsa lain.

Meluasnya Islam ke seluruh dunia tentu juga melintas aneka ragam budaya lokal. Islam menjadi tidak “satu”, tetapi muncul dengan wajah yang berbeda-beda. Hal ini tidak menjadi masalah asalkan substansinya tidak bergeser. Artinya, rukun iman dan rukun Islam adalah sesuatu yang yang tidak bisa di tawar lagi. Bentuk masjid kita tidak harus seperti masjid-masjid di Arab. Atribut-atribut yang kita kenakan tidak harus seperti atribut-atribut yang dikenakan bangsa Arab. Festival-festival tradisional untuk memperingati hari besar Islam yang kita miliki dapat diselenggarakan dengan menggunakan acuan Islam sehingga terjadi perpaduan yang cantik antara warna Arab dan warna lokal[8].

Baik agama maupun budaya difahami (secara umum) memiliki fungsi yang serupa, yakni untuk memanusiakan manusia dan membangun masyarakat yang beradab dan berperikemanusiaan. 



BAB III 
PENUTUP


A. Kesimpulan

Agama Islam merupakan agama yang mempunyai pengertian suatu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada masyarakat melalui nabi Muhammad SAW sebagai Rasul.

Peran islam dalam kehidupan manusia tepatnya menjadikan Islam itu sendiri sebagai objek kajian ilmiah atau cukup dijadikan pedoman hidup yang tampak perubahan dan kekurangan.

A.H. Hasanuddin mengemukakan beberapa fungsi agama yang secara umum dibutuhkan bagi kehidupan manusia yaitu:
1. Mendidik manusia, 
2. Mewujudkan keadilan,
3. Mencetak manusia jadi sabar, dan
4. Memberi sugesti manusia.

Tauhid mendoromg manusia untuk menguasai dan memanfaatkan alam karena sudah di tundukkan kepada manusia. 

Ketiga perkataan ini, alam, alamah, dan alam mewakili gejala yang harus diketahui atau dima’lumi, yakni menjadi objek pengetahuan.

Baik agama maupun budaya difahami (secara umum) memiliki fungsi yang serupa, yakni untuk memanusiakan manusia dan membangun masyarakat yang beradab dan berperikemanusiaan



B. Saran

Saran pemakalah kepada yang membaca makalah ini, apabila terdapat kesalahan dan kejanggalan dalam makalah kami mohon memberikan saran atau kritikan yang membangun terhadap pemakalah agar makalah kedepannya bisa lebih baik dari pada sekarang ini.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Atang abdul hakim, Jaih mubarok, Metodeologi Studi Islam, Bandung:Remaja Rosda karya.2011
Barmawie umary, Materia Akhlak, Solo:Ramdani.2000
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Macam Aspek, Jakarta: UI-Press.1995.
Hasbi Ash-shiddieqi, Al-Islam, Jakarta: Bulan Bintang. 1997
http://susanto-edogawa.blogspot.com/2013/07/perkembangan-politik-islam-di-indonesia_17.html. diakses 20/11/2013
Nasr sayyed tasser, The Heart Of Islam, Bandung:PT.MizanPustaka,2007
Nurcholis madjid, Islam Doktrin & Peradaban, Bandung:Remgia resada karya.2011


End Nott:

[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Macam Aspek, UI-Press. Jakarta: 1995. Hal.9
[2] http://susanto-edogawa.blogspot.com/2013/07/perkembangan-politik-islam-di-indonesia_17.html, diakses 20/11/2013
[3] Atang abdul hakim, Jaih mubarok, Metodeologi Studi Islam, (Bandung:Remaja Rosdakary2011), Hal.12
[4] Hasbi Ash-shiddieqi, Al-Islam, Bulan Bintang, Jakarta:1997, Hal.27-28
[5] Atang abdul hakim,__________Hal.13
[6] Atang abdul hakim,__________Hal.15
[7] Barmawie umary, Materia Akhlak, Solo, Ramdani:2000, Hal.84
[8] Nata, Abuddin. Metodologi StudiIslam. Jakarta, Rajawali Pers: 2009. Hal. 22-23